Gangguan Pendengaran Pada Bayi Dan Anak

alat bantu dengar, alat bantu dengar indonesia, alat bantu dengar terbaik, alat bantu dengar melawai, alat bantu dengar yang bagus, alat bantu dengar surabaya, alat bantu dengar bpjs, alat bantu dengar untuk lansia, alat bantu dengar siemens, alat bantu dengar bandung, alat bantu dengar jakarta, alat bantu dengar semarang, alat bantu dengar axon, alat bantu dengar digital, alat bantu dengar di surabaya, alat bantu dengar anak, alat bantu dengar untuk anak, alat bantu dengar untuk orang tua, alat bantu dengar bogor, harga alat bantu dengar, gangguan pendengaran pada bayi dan anakGangguan Pendengaran Pada Bayi Dan Anak

Gangguan telinga luar dan telinga tengah dapat menyebabkan gangguan pendengaran tipe KONDUKTIF (Conductive Hearing Loss) dimana terdapat hambatan hantaran  gelombang suara karena  kelainan atau  penyakit pada telinga luar dan tengah, sedangkan gangguan telinga dalam dapat menyebabkan  gangguan  pendengaran  tipe SENSORI NEURAL (Sensori Neural Hearing Loss). Jika terdapat kelainan atau penyakit tipe konduksi disertai sensorineural maka kelainan tersebut termasuk tipe CAMPURAN (Mixed Hearing loss). Penyebab gangguan pendengaran pada anak biasanya dibedakan menjadi 3 berdasarkan saat terjadinya gangguan pendengaran yaitu;

  1.        Pada saat  kehamilan atau dalam  kandungan (PRENATAL)

Yang berkaitan dengan keturunan (genetik). Yang tidak berkaitan dengan keturunan seperti Infeksi pada kehamilan terutama pada awal kehamilan/trimester pertama (Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes, Sifilis), kekurangan zat gizi, kelainan struktur anatomi serta pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi selama kehamilan yang berpotensi menggangu proses pembentukan organ dan merusak sel-sel rambut dirumah siput seperti salisilat, kina, neomycin, streptomisin, gentamisin, thalidomide barbiturate dll

  1.       Pada saat  Kelahiran atau Persalinan (PERINATAL)

Beberapa keadaan yang dialami bayi pada saat lahir juga merupakan faktor resiko untuk terjadinya gangguan pendengaran seperti tindakan  dengan alat  pada saat proses kelahiran (ekstraksi vakum, tang forsep), bayi lahir premature (< 37 mgg), berat badan lahir rendah (< 2500 gr), lahir tidak menangis (asfiksia), lahir kuning (hiperbilirubinemia). Biasanya jenis gangguan pendengaran yang terjadi akibat faktor prenatal dan perinatal ini adalah tipe saraf / sensori neural dengan derajat yang umumnya berat atau sangat berat dan sering terjadi  pada kedua telinga.

  1.      Pada saat setelah  Persalinan (POSTNATAL)

Pada saat  pertumbuhan seorang bayi dapat terkena infeksi bakteri maupun virus seperti Rubella (campak german), Morbili (campak), Parotitis, meningitis (radang selaput otak), otitis media (radang telinga tengah) dan Trauma kepala. Bayi yang mempunyai  faktor resiko diatas mempunyai kecenderungan menderita gangguan pendengaran  lebih besar dibandingkan bayi yang  tidak mempunyai faktor  resiko tersebut. Seorang anak harus  diperiksa fungsi pendengarannya segera setelah dicurigai terdapat faktor-faktor resiko diatas  atau  anak tidak bereaksi terhadap bunyi-bunyian disekitarnya (tepukan  tangan, suara mainan, terompet, sendok yang dipukulkan  ke gelas/ piring dll) dan terdapat keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa.

Demikian informasi yang bisa kami sampaikan, semoga bermanfaat.