Cara Mencegah dan Mengatasi Gangguan Pendengaran Pada Anak

alat bantu dengar, alat bantu dengar indonesia, alat bantu dengar terbaik, alat bantu dengar melawai, alat bantu dengar yang bagus, alat bantu dengar surabaya, alat bantu dengar bpjs, alat bantu dengar untuk lansia, alat bantu dengar siemens, alat bantu dengar bandung, alat bantu dengar jakarta, alat bantu dengar semarang, alat bantu dengar axon, alat bantu dengar digital, alat bantu dengar di surabaya, alat bantu dengar anak, alat bantu dengar untuk anak, alat bantu dengar untuk orang tua, alat bantu dengar bogor, harga alat bantu dengar, cara mencegah dan mengatasi gangguan pendengaran pada anakCara Mencegah dan Mengatasi Gangguan Pendengaran Pada Anak

Orang tua sering terlambat dalam mengenali gangguan pendengaran seorang anaknya. Padahal gangguan pendengaran sering terjadi pada saat anak pra sekolah. Sebenarnya gangguan pendengaran sendiri dapat diwaspadai dengan melakukan skrining. Skrining bertujuan menemukan kasus gangguan pendengaran sedini mungkin. Dengan demikian seorang yang melakukan skrinning pada saat bayi baru lahir, pra sekolah dan saat anak sedang bersekolah, diharapkan seorang anak yang mengalami cacat dengar dapat dibatasi akibatnya. Maksudnya seorang anak yang mengalami gangguan pendengaran dapat dicarikan jalan yang terbaik baik itu pendidikan dan perkembangan anak tersebut.

Sayangnya, tindakan rehabilitasi atau habilitasi pada anak yang mengalami gangguan pendengaran masih mahal dan belum merata, artinya belum bisa menjangkau pada anak-anak di daerah yang terpencil dan terisolasi. Meski demikian, ada beberapa sederhana untuk melakukan skrinning yang tepat. Diantaranya adalah melakukan respons audiotrik misalnya bertepuk tangan, membunyikan lonceng dan mainan.

Sedangkan cara jika ingin memperoleh hasil yang tepat ketika mendiagnosa kelainan gangguan pendengaran pada seorang anak, maka bisa menggunakan :

Pemeriksaan  Sejak Usia 2 Hari

Pada pemeriksaan lebih lanjut, biasanya anak akan menjalani pemeriksaan audiometri sesuai umur, diantaranya tes OAE (Oto Acoustic Emission) atau BERA (Brainstem Evoked Response Auditory). Cara kerjanya dengan menggunakan komputer serta dibantu sejumlah elektroda yang ditempelkan di permukaan  kulit kepala bayi. “Anak diberi rangsangan suara, kemudian direkam di komputer, hasilnya berupa data dalam bentuk grafik. Dari situlah akan diketahui ambang dengarnya.

Pemeriksaan tersebut bertujuan  untuk memastikan  apakah  memang benar terjadi gangguan pendengaran, jenis gangguan pendengaran  serta letak kelainan yang menimbulkan gangguan pendengaran. Sehingga dapat dicari solusi terbaik untuk perawatan selanjutnya, dengan harapan anak bisa berkomunikasi dengan atau tanpa alat bantu dengar. Di Indonesia kini tengah digalakkan pemeriksaan pendengaran bayi sejak usia 2 hari. Semakin cepat dan tepat intervensi dilakukan. Hasilnya akan semakin baik.

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.